Terkait Banjir Lumpur Di Ussu, DLH Lutim: PT.PUL Tidak Ada Itikad Baik

BURUH TINTA.COM, LUTIM, – Banjir lumpur yang menggenangi jalan Nasional beberapa waktu lalu di Desa Ussu Kec. Malili, Kabupaten Luwu Timur, SulSel, Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur langsung turun investigasi.

“Hasilnya, sumber air yang paling banyak menghanyutkan material lumpur berasal dari lokasi Tambang PT PUL,” kata Andi Tabacina, Kadis DLH Luwu Timur, Senin (14/04/2020) .

Dari hasil penelusuran ditemukan;
1. Adanya curah hujan yg tinggi diatas ambang normal

2. Sumber air yang paling banyak berasal dari Pit Tambang PT PUL di Blok E yang kemudian terakumulasi dan menyatu dengan aliran sungai yang tepatnya di bagian bawah barat Pit Tambang dengan panjang sungai sekitar 1,5 km hingga di samping SPBU USSU dengan kategori sungai denritis.

3. Volume air ini berasal dari areal Pit Tambang PT PUL di blok E yang kemudian tidak mampu ditampung oleh Sedimen pond yang terdiri dari 2 unit berdimensi 10 m x 15 m dan kedalaman 4 meter dengan total tampungan sekitar 1.200 meter kubik (air+sedimen) .

Sedangkan estimasi hitung-hitungan volume air yang keluar dari pintu outlet sedimen pond dengan diameter pintu outlet 70 cm tersebut sekitar 4000 meter kubik dengan estimasi hujan sekitar 30 menit.

Sehingga ada air yang overlood sekitar 3000 meter kubik menyatu dengan sungai, kemudian menyebabkan aliran debris sepanjang aliran sungai tersebut .

Sehingga menyebabkan pengikisan tebing-tebing sungai yang sebelumnya telah terendam sedimen dan kondisi tanah eksisting sungai yang labil. Kemudian datang air bah seketika lalu terbawa sampai ke samping SPBU Ussu sehingga meluap ke badan jalan trans sulawesi.

Idealnya, PT.PUL harus menambah 2 unit sedimen pond bervolume dan kapasitas sekitar 4000 meter kubik yang ada di sekitar blok E dengan memperhatikan kondisi geomorfologi dan landscape lahan.

“Selama PT PUL belum membuat kajian teknis sebagaimana rekomendasi inspektur tambang dan instruksi Bupati 15 Januari 2020 lalu, maka PUL tak akan mampu melakukan pembenahan lingkungan secara akurat.

Semua yang mereka lakukan pasti akan keliru. Sebab dari kajian teknis itulah mereka akan tahu apa langkah tepat yg harus dilakukan. Tapi sampai sekarang mereka belum lakukan kajian teknis. Memang tidak punya itikad baik utuk memperbaiki lingkungan,” Tutup Tabacina.

Redaksi | Editor : @nt* al

Komentar